
Hanya sebuah kisah dua orang dewasa yang dijodohkan tanpa saling mengenal satu sama lain. Akankah perjodohan itu berhasil. Dapatkah mereka saling jatuh cinta pada akhirnya?

Daria

Nama: Daria Alexandria
Tempat Lahir: Bandung
Tanggal Lahir: 1 Oktober 1998
Pekerjaan: Perawat
MBTI: INFP
Rupa: Baek Songmin (1998, model LA First South Korea + youtuber)
Erlan

Nama: Merlan Ramon Baatz
Tempat Lahir: Karawang
Tanggal Lahir: 18 Februari 1997
Pekerjaan: PNS
MBTI: INFP
Rupa: Jung Jaehyun (14 Februari 1997)

ERLAN'S POV—"PNS gadungan!""Kok bisa sih dia lolos jadi PNS. Bule begitu.""Lihat saja mukanya campuran Londo Korea! Pasti bayar sih. Nyogok dia!"Sialan! Aku ini warga lokal! Mukaku saja yang kebarat-baratan. Bahkan kakek nenekku saja orang Subang. Buyutku apalagi, dari pedalaman Garut sana. Mana ada campuran asing. Beruntung saja perpaduan wajah Ibu dan Ayahku yang sama-sama rupawan itu menghasilkan mukaku ini.Soal nama, hanya keisengan buyutku. Nama asli beliau Hadi Sukanta, tapi juragannya memanggil beliau Baatz karena kemahirannya berbahasa asing, terutama bahasa Belanda.Jadi darah yang menglir di nadiku ini darah asli tanah air lho.Dasar penggunjing tak tahu diri, tak tahu menahu pun soal keluargaku, tapi bisa-bisanya membumbui cerita yang mereka terka-terka sendiri. Sudah begitu, membicarakannya kencang-kencang di warung makan lagi. Didengar semuanya."Udah jangan didengerin, biarin aja." Ujar si penjual kepadaku saat kedapatan aku meremas sendok terlalu kuat.Pak Sulah, si penjual warung nasi itu, memberikanku segelas es teh yang aku pesan. "Ibu Bapak sehat?" Tanyanya yang memang mengenal aku dan keluargaku. Aku angguki karena masih mengunyah, setelah aku menelan dan hendak menjawab, pak Sulah kembali bertanya."Kalau sudah dilantik begini, jadi dong meminang gadis tercantik di kota ini?" Pak Sulah menyeringai menggoda. Gigi ompongnya nampak menghibur. Kalau itu sih, tak aku angguki. Malah merah mukaku, malu.Ternyata Pak Sulah saja sudah tahu tentang perjodohan itu. Mungkin itulah alasan Ibu-Ibu semakin memanas, bergosip sana-sini. Aduh. Masih belum paham aku, apa yang menjadikan mereka itu begitu marah. Apa karena anak-anak gadisnya aku tolak? Astaga, lagipula sudah aku bilang aku tak mau mencari calon sendiri. Buktinya, aku akhirnya dijodohkan. Dengan seorang wanita yang bahkan belum pernah aku temui.Segera aku habiskan makanku siang itu. Pak Sulah sempat menitipkan pesan dan salam untuk Bapak Ibu. Aku tersenyum menerimanya. Dan seperti yang aku duga, Ibu-Ibu itu sibuk melirik sinis padaku ketika aku melewati mereka di mejanya. Ingin aku bilang "Bu, telen dulu, tuh nasi nempel di dagu tuh!"Tapi aku berusaha bersikap masa bodoh. Toh sekarang Ibu dan Bapak pasti sedang menungguku. Untuk merayakan pelantikanku. Setelahnya kami akan pergi ke rumah wanita itu. Melangsungkan sebuah perjodohan.Jujur aku gemetar, dan takut. Bukan karena aku tidak percaya diri dengan penampilan dan pekerjaanku. Hanya saja, yang aku dengar, wanita itu menentang perjodohan ini. Takut saja aku dan keluargaku ditolak.

DARIA'S POV—Tahun berapa sekarang?Daria berusaha meyakinkan dirinya kalau sekarang benar benar tahun 2024. Jaman modern, yang katanya robot robot dengan kulit seperti manusia asli sedang dibuat di belahan dunia lain. Tapi di sini, di rumahnya sendiri, praktek kuno zaman Siti Nurbaya masih terjadi.Lebih buruk lagi, terjadi pada dirinya sendiri.“Perjodohan?” Daria kembali mengulang kata itu untuk yang ketiga kalinya semenjak sang Ibu memberitahu rencana tersebut.“Anaknya loh baik, Nak. Ibu kenal dengan orangtuanya. Bibit bebet bobotnya tak usah diragukan lagi,” sang Ibu kembali meyakinkan anak sulungnya itu, “Dengar dengar, dia juga baru saja dilantik sebagai PNS. Terjamin hidupmu nanti, sudah tua pun ada pensiun.”Benar ternyata. PNS masih menjadi calon menantu idaman, setidaknya bagi orangtua Daria.Daria berusaha mengontrol emosinya. Sebagai anak sulung dari keluarga yang masih “konservatif” ini, dia sering dihantam dengan kebiasaan kebiasaan tradisional orang dulu. Anak perempuan harus ini lah, anak perempuan harus itulah. Daria bahkan tidak diperbolehkan melanjutkan kuliahnya ke luar pulau, alih alih ke luar negeri. Tapi tidak masalah, dia bisa berdamai dengan itu. Lagian, menjadi perawat sudah seperti panggilan jiwanya. Daria senang menolong orang lain. Dia senang merasa berguna.Perempuan kelahiran Bandung, 1 Oktober 1998 itu kadang beranggapan dirinya berbeda dengan orang orang lain di keluarganya. Daria menyukai hal hal modern. Dia suka bepergian, dia juga suka mempertanyakan banyak hal terkait tradisi yang mengikat. Termasuk di dalamnya urusan perjodohan ini.Berkali kali keluarganya berusaha meyakinkan Daria untuk mengenal sang pemuda. Foto yang diberikan tak pernah dilihat Daria barang sekilas. Medsos sang pemuda pun tak juga mengunggah rasa ingin tahunya.Daria, sang hopeless romantic ini, masih berharap dia bisa menemukan sendiri cintanya. Cinta yang mungkin tumbuh dari mata turun ke hati, seperti saat kemaren, ketika dia melihat seorang pemuda tengah memberi makan kucing jalanan di dekat klinik tempatnya bekerja. Terbersit rasa penasaran di hati Daria untuk mengenal sang pemuda, tapi mengetahui dia tengah dipersiapkan untuk dilamar seseorang, keinginan itupun dikubur Daria jauh jauh di lubuk hatinya.Mungkin, perjodohan tidak seburuk yang dia bayangkan. Ya… setidaknya ada restu orangtua yang menyertai, kan?